Log in

Dari Hobi Menyanyi Hijrah Hingga Menjadi Muazin Masjid Istiqlal

Abdul Sengkang Gurium, peserta MTQN XXVII asal Papua Barat. Abdul Sengkang Gurium, peserta MTQN XXVII asal Papua Barat.

Abdul Sengkang Gurium

Hujan yang mengguyur Kota Medan sejak Rabu (10/10) pagi tidak mematahkan semangat para peserta MTQN XXVII 2018. Memasuki hari ketiga babak penyisihan cabang perlombaan Qiraat Sab'ah Mujawwad di Astaka Utama, Jalan Williem Iskandar, Medan berlangsung khidmat. 

Salah satu pesertanya asal Papua Barat, terlihat lega telah menampilkan kebolehannya hari itu. Pria asli kelahiran Papua Barat bernama Abdul Sengkang Gurium ini ternyata muazin di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Kebolehannya melantunkan ayat suci Alquran membuatnya mendapatkan kesempatan berkuliah di Perguruan Tinggi Ilmu Qur’an (PTIQ) Jakarta dan selesai di tahun 2013 lalu. Abdul sendiri baru aktif belajar ilmu Alquran saat ia berada di bangku kuliah semester empat, di Manokwari.

"Sebelum ke Jakarta saya sudah berkuliah lebih dulu di Papua, hingga semester 4. Satu waktu teman mengajak saya untuk belajar ilmu Alquran. Saya yang awalnya hobi bernyanyi tertarik untuk belajar mengaji. Dari situlah proses belajar saya dimulai," cerita Abdul tentang proses hijrahnya dari hobi bernyanyi di usia 19 tahun usai tampil di Astaka pada hari Rabu (10/10).

Proses hijrah Abdul membuahkan hasil. Dia menjadi juara di MTQN XXV tahun 2014 lewat golongan qori remaja. Saat pindah ke Jakarta dia belajar qiraat Quran pada Buya Muhammad Ali, orang Betawi yang juga qori internasional dan bahkan sekarang menjadi salah satu dewan hakim untuk golongan tilawah remaja.

"Waktu itu saya bersama 10 orang berasal dari beragam suku dan daerah. Sembari beraktivitas sebagai mahasiswa, setiap Sabtu dan Minggu dimanfaatkan mendatangi Buya untuk belajar qiraat. Dalam sehari itu dimulai waktu sore, hingga subuh. Kita disebut santri kalong, karena hanya datang tiap Sabtu dan Minggu saja," jelasnya.

Kepindahannya ke Jakarta salah satu alternatif untuk memudahkan dia dan teman-temannya asal Papua untuk mendapatkan guru lebih baik dan lebih intens. Biasanya pemerintah mencari bakat anak-anak Papua untuk mendapat kesempatan belajar lebih baik dan intens.

Saat ini Abdul tinggal di Jakarta, sudah dua tahun ia mengabdi di Masjid Istiqlal sebagai muazin di sana. Abdul menjadi salah satu peserta dari 49 peserta yang mewakili Papua Barat. "Saya memang belum optimis bisa masuk final, tapi saya sudah berikan yang terbaik," ujar ayah dua anak ini.

Abdul mempersiapkan penampilannya kali ini selama 3 minggu saja. Tapi ia berharap penampilannya bisa memotivasi anak-anak Papua untuk mau belajar ilmu Alquran.

Peserta Termuda

 Sementara itu Aqilah Masyrifah Zaber Annisa dan Tsaqila Awal menjadi peserta termuda Musabaqoh Fahmil Qur’an (MFQ) cabang Fahm-Al Qur’an golongan putri di hari ketiga, Selasa (8/10). Sayang pada musabaqah yang digelar di aula UIN Sumatera Utara ini dua remaja berusia 13 tahun asal Maluku Utara ini harus tersingkir.

Aqilah dan Annisa, begitu keduanya disapa, merupakan dua sahabat yang sama-sama duduk sebagai siswa kelas II SMP Islam Terpadu di Provinsi Maluku Utara. Keduanya tampil dan berlaga dalam satu grup dengan tim-tim kafilah asal Indonesia Timur lainnya.  

 Ditemui usai tersingkir di babak penyisihan grup 14, Aqilah Masyrifah Zaber mengaku tidak kecewa. Mereka justru senang karena sudah mendapat pengalaman baru selama mengikuti MTQN XXVII khsusunya untuk cabang Fahmil Qur’an di Sumut.

 “Ini merupakan event pertama saya di tingkat nasional. Meskipun sebelumnya saya juga sering ikut lomba untuk tingkat provinsi di Maluku Utara dan sekitarnya, namun persiapan kami tahun ini memang sangat minim dan singkat,” ucap remaja penghafal 3 juz Alquran ini.  

Meskipun kalah, Aqilah berharap ke depan timnya bisa punya persiapan yang matang. Termasuk banyak melakukan pelatihan dan training center sebelum mengikuti sebuah event pertandingan berskala nasional. “Mudah-mudahan ini jadi pelajaran untuk persiapan ke depan nanti,” jawabnya.

Sementara bagi Annisa Tsaqila, dirinya memang semenjak kecil sudah dididik dan dipersiapkan ibunya sekaligus pelatihnya untuk menjadi penghafal cabang ilmu fahmil qur’an. “Karena pelatihnya adalah ibu saya sendiri, makanya sejak kecil saya sudah dipersiapkan untuk menjadi peserta,” jawab Annisa.

Ditanya tingkat kesulitan soal-soal yang dipertanyakan dewan hakim, Annisa dan Aqilah menyebut penyelenggaraan event MTQN XXVI khusus untuk cabang fahmil quran tahun 2018 ini banyak melombakan soal-soal baru. Terutama terkait hadist dan faturrahman.    

“Kami belum belajar banyak soal potongan hadist yang dipertanyakan  karena ini merupakan pola soal yang masih baru bila dibanding MTQ sebelumnya,” kata Annisa. (WAN)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 98%

Wind: 8.05 km/h

  • 20 Oct 2018 30°C 21°C
  • 21 Oct 2018 28°C 22°C

Banner 468 x 60 px