Log in

Danlanud: Stiker Izin Lintas Gratis

Pihak POM Lanud Soewondo memeriksa kendaraan masyarakat yang melintas di Jalan Adi Sucipto, Medan. andalas|ist Pihak POM Lanud Soewondo memeriksa kendaraan masyarakat yang melintas di Jalan Adi Sucipto, Medan. andalas|ist

Hanya Kendaraan Berstiker Boleh Lewat Lanud Soewondo

Medan-andalas Pemasangan stiker khusus bagi kendaraan yang melintasi Jalan Adi Sucipto, dan sepanjang kawasan militer Kosek Hanudnas III maupun di sekitar Lanud Soewondo Medan sempat menuai polemik.

Sebab Pangkalan TNI Angkatan Udara Soewondo disebut-sebut menerapkan tarif untuk pengurusan stiker itu yakni sebesar Rp25 ribu untuk sepeda motor dan mobil Rp30 ribu. Kabar tersebut pun sempat viral di media sosial.

 Namun belakangan, Danlanud Soewondo Kolonel Pnb Dirk Poltje Lengkey membantah adanya tarif untuk mengurus stiker tersebut. Menurutnya pemberlakuan pemasangan stiker tidak dikenakan tarif atau biaya alias gratis.

“Sekali lagi saya tegaskan mengenai informasi yang beredar soal adanya biaya untuk pemasangan stiker tidak benar. Semua masyarakat atau pengguna jalan berhak memperoleh stiker dengan syarat yang sudah ditentukan,” kata Poltje Lengkey saat memberikan keterangan pers, Jumat (7/9).

Dia mengatakan pemasangan stiker ini sama sekali bukan demi tujuan komersil. Namun ia menyebutkan, bagi siapa saja yang sering melintas di sekitar Jalan Kolonel Adi Sucipto maka harus mengurus stiker khusus dengan menunjukkan fotokopi KTP, fotokopi SIM, dan fotokopi STNK.

“Wajar saja banyak masyarakat yang berkomentar dengan kebijakan ini. Karena selama ini masyarakat berfikir jalan ini untuk umum. Padahal jalan ini masuk dalam Kesatriaan Lanud Soewondo,” ucap Poltje Lengkey.

Poltje Lengkey mengaku pemberlakuan pemasangan stiker bagi pengendara semata-mata untuk mengawasi dan memantau kendaraan yang melintas.

“Biasanya akses kita buka sejak pukul 06.00 WIB sampai pagi sampai pukul 23.00 WIB malam. Jadi kalau ada yang melintas di atas pukul 23.00 WIB, kita dapat mengetahui siapa yang melintas apakah itu anggota, warga sekitar atau masyarakat umum,” jelasnya.

Pangkalan TNI AU Soewondo di Medan, Sumatera Utara, memberlakukan pembatasan kendaraan yang melalui Jalan Adi Sucipto. Hanya kendaraan berstiker resmi yang boleh melewati area Lanud.

Meskipun sudah diberlakukan sejak 29 Juni 2018 sebagaimana yang tertuang dalam surat edaran Komandan Lanud Soewondo Kolonel Pnb Dirk Poltje Lengkey, bernomor SE/02/VI/2018, aturan tersebut masih akan disosialisasikan sampai tiga minggu ke depan.

Menurut Komandan Satpom Lanud Soewondo, Mayor POM I Gede Eka Santika, aturan wajib stiker berlaku mulai dari bundaran eks Bandara Polonia sampai ke perempatan Avros.

Untuk mendapatkan stiker, masyarakat harus mengurusnya di Kantor Sat Pom Lanud Soewondo, dengan membawa salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP), Surat Izin Mengemudi (SIM) dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK).

"Stiker tidak sembarangan diberikan, hanya kepada warga sipil yang bertempat tinggal di daerah sekitar Lanud Soewondo, atau yang karena keperluannya sehingga benar-benar harus rutin melintasi jalan ini," jelas Eka, di Medan, Jumat (7/9).

Stiker terbagi atas dua jenis, yakni warna biru dan merah. Warna biru untuk masyarakat yang melintas karena kepentingan, sedangkan warna merah untuk masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar kawasan Lanud. Stiker pada dasarnya berlaku hingga 1 tahun, tetapi pada tahap awal ini masih diberlakukan sampai Desember 2018.

Jalan Adi Sucipto merupakan ruas jalan yang membelah hampir mengelilingi kawasan Lanud Soewondo. Kawasan itu sebelumnya difungsikan sebagai bandara komersil bernama Bandara Polonia.

Setelah Bandara Kuala Namu beroperasi mulai 2013, kawasan tersebut sepenuhnya berfungsi sebagai pangkalan udara. Meski demikian, Jalan Adi Sucipto sampai sekarang masih dilalui kendaraan masyarakat umum karena cukup memangkas jarak sejumlah kawasan di Medan.

Karena itu, kendati bandara komersial sudah beralih ke Kuala Namu, ruas jalan itu tetap ramai dilalui kendaraan, bahkan mengalami peningkatan trafik. Selain menyangkut keamanan, pembatasan kendaraan dengan stiker diyakini dapat mengurai kemacetan, khususnya pada pagi dan sore hari.

Pangkalan TNI AU Soewondo meyakini pemberlakuan pengenaan stiker bagi kendaraan yang melintasi Jalan Adi Sucipto, Medan, Sumatera Utara, dapat meningkatkan keamanan dan mengurai kemacetan. Namun, Ombudsman Provinsi Sumut meragukannya.

"Kalau benar penerapan stiker izin melintas di Jalan Adi Sucipto bertujuan mengurai kemacetan, saya kira pemberlakuan stiker bukanlah solusi. Apa iya stiker bisa mengurai kemacetan?" tanya Kepala Perwakilan Ombudsman Provinsi Sumut Abyadi Siregar, di Medan, Jumat (7/9).

Abyadi mengakui, memang pada jam-jam tertentu terjadi kemacetan di Jalan Adi Sucipto. Akan tetapi, menurutnya kondisi itu hanya selalu terjadi di Simpang Empat Avros. Oleh karena itu, Abyadi menilai pemberlakuan stiker belum tepat untuk atasi kemacetan di kawasan tersebut.

Terkait dengan alasan keamanan, Abyadi memandang bila TNI AU ingin agar Lanud Soewondo benar-benar aman, jangan ada kawasan bisnis di sana. Pasalnya, keberadaan kawasan bisnis di area Lanud pasti menarik kunjungan masyarakat.

"Sebagai fasilitas militer, seharusnya masyarakat jangan diberi bebas masuk ke Soewondo. Namun faktanya, di dalam kawasan Lanud juga sudah terdapat kompleks bisnis sehingga tentunya menjadi ancaman juga bagi keamanan pangkalan TNI AU. Sebagai pangkalan militer, kenapa di kawasan itu berdiri gedung-gedung ruko yang kami duga milik swasta? Ini kan aneh," papar Abyadi.

Karena menemukan sejumlah keganjilan itu, Ombudsman akan mencoba mempelajari petunjuk teknis internal TNI AU yang menjadi dasar pemberlakuan aturan tersebut. Kendati demikian, Abyadi mengapresiasi TNI AU karena tidak mengenakan biaya pengurusan dan pemberian stiker.
    
Memberatkan Warga

Anggota Komisi D DPRD Medan Ilhamsyah menilai aturan tersebut memberatkan warga, khususnya kalangan pelajar yang kerap melintas di wilayah tersebut.

"Kita mengucapkan terima kasih kepada Komandan Pangkalan Udara Soewondo, karena telah memberi perhatian kepada warga Medan dengan mengizinkan mempergunakan fasilitas di sana," ujar Ilhamsyah kepada wartawan di Medan, Jumat (7/9).

Sebab, penggunaan fasilitas tersebut sangat membantu Pemko Medan. Penggunaan kawasan itu untuk jalur lintas yang selama ini merupakan kawasan militer sangat membantu Pemko Medan dalam memecahkan masalah kemacetan lalu lintas. Jalur lintas Jalan Adi Sucipto menjadi solusi mengatasi kemacetan yang sangat padat di kawasan itu.

"Selama ini warga tidak pernah menentang kebijakan Danlanud seperti pembatasan kecepatan kendaraan maksimal 40 kilometer per jam serta pembatasan waktu melintas dari pukul 23.00 WIB sampai pukul 06.00 WIB. Warga memahami karena kawasan itu merupakan kawasan militer yang harus sangat diperhatikan keamanannya," imbuhnya.

Pemko Medan, katanya, harus menyikapi dengan baik kebijakan yang dikeluarkan Lanud Soewondo tersebut. Hal itu untuk mencegah timbulnya persoalan baru.

"Harus dicari solusinya. Dan alangkah baiknya Danlanud mengajukan perbaikan dan pelebaran jalan sehingga kawasan tersebut bisa lebih baik lagi," paparnya. (GO/MI/THA)

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

28°C

Medan, Sumatera Utara

Thunderstorms

Humidity: 75%

Wind: 11.27 km/h

  • 21 Sep 2018 28°C 23°C
  • 22 Sep 2018 27°C 22°C

Banner 468 x 60 px