Log in

Danau Baru di Kaki Gunung Sinabung Semakin Meluas

Warga menunjuk danau baru yang semakin meluas di kaki Gunung Sinabung. andalas|robert tarigan Warga menunjuk danau baru yang semakin meluas di kaki Gunung Sinabung. andalas|robert tarigan

Aktivitas guguran awan panas yang masih kerap terjadi sehingga membentuk danau baru di kaki Gunung Api Sinabung beberapa bulan belakangan ini, ternyata menarik minat warga ingin melihatnya meski harus menempuh risiko yang sangat berbahaya.

Fenomena alam ini mulai menjadi perhatian warga sehingga nekat masuk ke zona merah Sinabung hanya untuk melihat bagaimana proses pembentukan danau baru yang makin meluas itu.

Saat ini Gunung Sinabung masih terus mengalami guguran awan panas disertai erupsi yang mengarah ke bagian tenggara dan selatan sehingga menutup aliran air Sungai Lau Borus di kawasan lereng gunung.

Selama ini masyarakat tahunya hanya ada Danau Lau Kawar yang  menjadi salah satu tempat tujuan wisata alternatif di Kabupaten Karo. Namun kini dengan kemunculan danau baru yang semakin meluas di selatan lereng Sinabung, menjadi magnet tersendiri yang membuat warga penasaran ingin melihatnya.

Saat ini luas danau yang baru terbentuk itu sudah mencapai kurang lebih 7 hektare. Danau itu terlihat terbentuk akibat awan panas Sinabung yang menerjang sejumlah desa seperti Desa Simacem dan Desa Bakerah yang kini hampir punah.

Kedua warga desa itu sudah direlokasi ke Siosar. Tidak lagi terlihat ada warga tinggal di kedua desa tersebut karena permukiman mereka telah tertimbun material letusan Gunung Sinabung.

Padahal beberapa waktu sebelumnya, danau yang berada di bawah perladangan warga Kuta Dekah dan persisnya di bawah Desa Simacem, Kecamatan Naman Teran, tampak belum begitu luas, namun belakangan danau tersebut semakin melebar.

Pantauan andalas, Kamis siang (12/7) di sekitar lokasi, terlihat dengan jelas kalau danau tersebut semakin meluas hingga ke aliran Sungai "Batu Naga" kawasan Desa Sukanalu Teran.

Menurut keterangan salah seorang warga, S Pelawi, awal terbentuknya danau itu akibat saluran Lau Borus ditutupi material terutama bebatuan Gunung Sinabung.

Sungai yang mengaliri terusan itu datang dari Danau Lau Kawar dan Pertumbuken sehingga air danau tersebut setiap harinya semakin bertambah dan meluas, tuturnya saat disambangi andalas.

Arus sungai yang datang dari Lau Kawar Tacingkam antara perbatasan Desa Sukanalu Teran dengan Desa Simacem dengan Lau Borus yang datang dari Pertumbuken itu bersatu karena saluran ditutupi material Gunung Sinabung, sehingga terbentuk menjadi danau dan lama kelamaan sampai ke jembatan Pertumbuken yang menghubungkan Desa Naman Teran dengan Desa Kutarayat serta Desa Sigarang-garang, urai S Pelawi.

Disambungnya lagi, awalnya danau itu pertama kalinya terbentuk di bawah Desa Simacem atau pun sering disebut “Danau Kuta Dekah” namun lama kelamaan danau tersebut semakin meluas hingga ke bawah Desa Sukanalu Teran yang meliputi wilayah Sinderung dan Batu Naga.

Ketika mengitari lokasi tersebut, tampak ada beberapa rakit yang terbuat dari bambu berada di pinggir danau tersebut dan mungkin saja banyak warga ke danau tersebut memancing ikan di sana setiap harinya.

"Namun, kita harus waspada dan tetap hati-hati  karena setiap saat Gunung Sinabung dapat menyemburkan awan panas sehingga nyawa taruhannya," kata Pelawi mengingatkan.

Sementara itu Kepala Pos Pemantau Gunung Api Sinabung Armen Putra  dengan tegas mengingat warga agar tidak coba-coba melihat danau baru itu mengingat  risiko bahayanya cukup besar.

Danau baru atau genangan air yang bisa menarik perhatian warga untuk datang melihatnya itu, sewaktu-waktu dapat jebol menerjang permukiman.

palagi aktivitas Gunung Sinabung yang hingga kini masih berstatus Awas itu juga telah membentuk 50 juta meter kubik material vulkanis di lereng gunung yang berpotensi menjadi lahar saat hujan mengguyur Sinabung.

"Material vulkanis yang membendung Sungai Lau Borus pun tidak stabil. Material itu bisa jebol sewaktu-waktu, genangan air itu dapat menerjang permukiman warga," katanya.

Padahal, awan panas guguran selalu meluncur ke arah danau secara tiba-tiba tanpa dapat diprediksi. Bahkan, ada beberapa orang yang nekat mandi di danau dengan kedalaman sekitar 5 - 7 meter tersebut.

Armen Putra mengatakan, pihaknya belum dapat mengidentifikasi secara mendalam danau baru itu karena letaknya persis di jalur awan panas, yang masuk kawasan zona larangan. Untuk warga diminta jangan antar nyawa hanya untuk melihat danau baru tersebut. "Dugaan sementara, danau terbentuk karena badan sungai terbendung material vulkanis," katanya. (RTA)

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

27°C

Medan, Sumatera Utara

Thunderstorms

Humidity: 82%

Wind: 11.27 km/h

  • 20 Jul 2018 30°C 24°C
  • 21 Jul 2018 31°C 23°C

Banner 468 x 60 px