Log in

BNN Diduga Salah Tembak M Yasin

Keluarga alm Muhammad Yasin saat mendatangi kantor KontraS Sumut. Keluarga alm Muhammad Yasin saat mendatangi kantor KontraS Sumut.

KontraS Sumut Minta Komnas HAM Turun Tangan

Medan – andalas Keberhasilan Badan Narkotika Nasional (BNN) menggagalkan peredaran 81,8 Kg sabu-sabu dan 102.657 butir pil ekstasi di Asahan, Sumut, pekan lalu, menyimpan cerita lain. Pria yang meninggal diterjang peluru petugas ternyata tidak terlibat dalam kejahatan itu.

Korban meninggal atas nama Muhammad Yasin. Dia kehilangan nyawa setelah sejumlah peluru petugas BNN bersarang di tubuhnya, Rabu (3/7) lalu. Seorang kerabatnya, M Yusuf, juga tertembak. Dia terluka di bagian kaki.

Yasin dan Yusuf ditembak saat berada di mobil Toyota Avanza dengan nomor polisi B 1321 KIJ yang dicurigai dan dikejar petugas. Seorang lain yang ada di dalam mobil, yakni Sulaiman, juga menjadi korban salah tangkap.

Keluarga korban salah tangkap dan salah tembak ini tengah menuntut keadilan. Didampingi kuasa hukumnya, mereka mengadu ke Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Sumatera Utara.

Sebelumnya, dalam kronologi penangkapan yang dibagikan Deputi Pemberantasan BNN Irjen Pol Arman Depari, Kamis (4/7), memang tidak menyebut penumpang Avanza B 1321 KIJ sebagai pelaku. Namun mobil itu disebutkan ditembak setelah melarikan diri, bahkan menabrak serta berupaya mencelakai serta membahayakan petugas. Akibat tembakan itu Yusuf, dan Yasin ditemukan terluka. Yasin akhirnya meninggal dunia.

Dijelaskan pula dalam kronologi itu bahwa Avanza B 1321 KIJ sehari sebelumnya menghalangi petugas BNN di kawasan Batu Bara. Kendaraan itu disebutkan menyalip dan menghalangi mobil petugas yang tengah mengejar target yang mengendarai Honda Jazz dengan nomor polisi BK 1004 VP. Mobil itu juga dinyatakan melarikan diri dari kejaran petugas.

Pihak keluarga memastikan BNN telah salah sasaran. Mereka mengakui, mobil itu sebelumnya memang berada di Batu Bara. Namun, keberadaannya untuk mengantarkan Jamilah, adik Yasin, yang baru saja hadir dalam sidang perkara ITE yang menjerat suaminya Rahmadsyah Sitompul di PN Kisaran.

Rahmadsyah merupakan saksi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga yang mengundang perhatian di sidang sengketa Pilpres MK beberapa waktu lalu. Selain penampilannya yang beda, dia juga mengaku berstatus terdakwa perkara ITE.

Keluarga menyatakan mobil Avanza itu tidak terlibat kejar-kejaran dengan mobil petugas BNN di Batu Bara. "Kami nggak tahu ada kejar-kejaran BNN. Kami kira karena di jalan raya, ya biasa saja mobil kencang-kencang," kata Jamilah di kantor KontraS Sumut di Medan, Rabu (10/7) petang.

Namun, keesokan harinya, mobil itu memang dihadang di kawasan kawasan Simpang Kolam, Batang Kuis, Deli Serdang. Sulaiman mengatakan mereka panik karena menduga yang mengejar adalah kawanan begal.

Selain, Sulaiman, Yasin dan Yusuf, di dalam mobil juga ada Robi Syahputra dan Sofyan Hidayat. Keduanya adalah pengacara Rahmadsyah yang akan diantar pulang ke Medan.

"Mobil dibawa Yusuf. Dia ketakutan. Karena hari masih gelap, jalanan sunyi, kami mengira mobil itu kawanan begal atau rampok, sehingga kami panik," ujar Sulaiman.

Karena dihadang, mobil itu berbelok. Mereka dikejar. Sulaiman mengatakan, tiba-tiba terdengar suara tembakan. Pelipis Yasin yang duduk paling belakang terluka.

"Kami makin panik di dalam itu, semua kebingungan," ungkap Sulaiman.

Pria ini mengaku tak tahu pasti jumlah suara tembakan yang didengarnya. "Kepala Sofyan Hidayat juga berdarah. Makanya kami langsung tancap gas ke arah Jalan Perhubungan, Laut Dendang," jelas pria yang berprofesi sebagai nelayan ini.

Di kawasan Jalan Perhubungan ternyata ada mobil lain yang menghadang. Mereka semakin takut. Beberapa tembakan kembali terdengar. Sulaiman mengaku sempat tiarap di dalam mobil.

Mereka keluar dari dalam mobil untuk menyelamatkan diri setelah mobil terhenti di depan warung. Sulaiman bahkan sempat memanjat pohon mangga warga.
Yusuf juga ternyata berupaya menyelamatkan diri di sana.Mereka baru berani turun saat kawanan yang disangka begal mengaku sebagai polisi.

"Ada yang bilang, 'saya polisi', makanya saya lihat ke bawah dan turun. Saya dan Yusuf langsung diborgol bergandengan," ujar Sulaiman.

Saat itu Sulaiman baru mengetahui kaki kiri Yusuf tertembak. Sementara Yasin yang ditemukan mengalami luka tembak di dalam mobil, bersama Yusuf dan Sulaiman, dibawa RSU Haji. Saat itu, kata Sulaiman, Yasin masih hidup. Kepalanya berlumur darah. Dia juga memegangi bagian perut.

"Dia terus menyebut. 'Salah kami apa ya Allah?' Dia sempat dirawat suster, tapi di rumah sakit dinyatakan meninggal dunia," imbuh Sulaiman.

Yusuf kemudian dibawa ke RS Bhayangkara untuk mendapat perawatan atas luka tembak di kaki kirinya. Sementara Sulaiman diinterogasi petugas dan dibawa ke kantor BNNP Sumut. Dia mengaku sempat ditampar ketika itu.

Sempat ditahan di dalam sel, Sulaiman kemudian dimintai keterangan. Sofyan dan Robi juga datang ke BNN Sumut. Kerkga dipertemukan dengan tersangka yang ditangkap atas kasus 81,8 Kg sabu-sabu dan 102.657 butir pil ekstasi, mereka tidak kenal.

Sulaiman, Sofyan dan Robi juga menjalani tes urine. Hasilnya negatif. "Karena dinyatakan tidak bersalah kami dibebaskan pada Sabtu (6/7)," sebut Sulaiman.

Dia mengaku diberi Rp500.000 saat petugas BNN mengantarkannya pulang ke Jalan DI Panjaitan, Medan. Uang itu, katanya, sebagai uang transport. Sementara jenazah Yasin juga sudah dipulangkan ke rumah keluarganya.

Kini kasus salah tangkap dan salah tembak ini dikawal KontraS. Lembaga ini masih mengumpulkan keterangan dari para korban. Selanjutnya, mereka akan menyurati Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).

"Kami meminta Komnas HAM juga menginvestigasi kasus ini. Supaya keluarga korban mendapat keadilan dan proses hukum bisa berjalan. Kami akan terus mendampingi kasus ini," ujar Koordinator Badan Pekerja KontraS Sumut Amin Multazam Lubis. (MDC)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px