Log in

78 WN Tiongkok dan Taiwan Segera Dideportasi


Medan-andalas Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Polonia, Sahala Pasaribu mengaku pihaknya sampai saat ini belum menerima pelimpahan 78 Warga Negara Asing (WNA) asal Taiwan dan Tiongkok yang diamankan Polda Sumut beberapa hari lalu.

"Tadi saya sudah konfirmasi ke pihak Polda Sumut, sampai saat ini belum ada kejelasan terkait pelimpahan ke-78 WNA itu. Katanya memang mau diserahkan ke kita (Imigrasi, red)," ungkap Sahala, kepada andalas, Kamis (18/5).

Diakui Sahala, setelah diserahkan ke Kanim Kelas I Polonia, pihaknya akan mendeportasi para WNA yang diduga terlihat kejahatan di negaranya itu.

"Pelanggaran keimigrasian tidak ada ditemukan. Mereka murni melakukan pelanggaran pidana di negaranya. Sesuai permintaan negaranya, mereka akan dideportasi ke negara asalnya," tegas Sahala.

Selain akan dideportasi, Sahala menyebutkan ke-78 WNA itu akan dilarang masuk ke Indonesia. Namun Sahala belum bisa memastikan untuk berapa lama.

"Paling lama dicekal dua tahun. Tapi bisa saja 6 bulan. Tergantung keputusan Direktorat Jendral Imigrasi," sebutnya.

Sebelumnya, sebanyak 78 WN Tiongkok dan Taiwan diamankan petugas Subdit II/Cyber Crime Direktorat (Dit) Reskrimsus Polda Sumut dari sebuah gudang di pelosok Jalan Sultan Serdang Gang Soponyono, Dusun II Tegal Sari, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Senin (15/5).

Direktur Reskrimsus Polda Sumut Kombes Pol Toga H Panjaitan didampingi Kasubdit II/Cyber Crime, AKBP Horizon Saragih di Tempat Kejadian Perkara (TKP), Selasa (16/5) menjelaskan, ke-78 WN asing tersebut terdiri 24 warga Taiwan dengan rincian 20 pria dan 4 wanita.

Sedangkan 54 lainnya merupakan warga Tiongkok, terdiri 29 pria dan 25 wanita. Pengungkapan itu juga berkat kerja sama dengan petugas Interpol yang telah menerima laporan korban dari masing-masing negaranya.

Kata Toga, ke-78 WN asing tersebut melakukan kejahatan penipuan dan pemerasan terhadap para pejabat di negaranya. Dalam aksinya, pelaku mengaku sebagai aparat penegak hukum menghubungi korban dan menyebut anaknya telah terlibat dalam kasus narkoba.

“Supaya anaknya tidak diproses, pelaku meminta sejumlah uang kepada para korbannya,” terang Toga.

Selain itu, dalam aksinya, pelaku juga mencari-cari kesalahan korbannya, menanyakan aset dan menyebutnya sebagai hasil korupsi. Pejabat yang memiliki rekening dengan saldo yang banyak ditanyakan tentang asal usulnya.

“Para pejabat merasa ketakutan sehingga bernegosiasi kepada kelompok pelaku yang mengaku sebagai jaksa, polisi dan aparat penegak hukum lainnya,” sebut Toga.

Kata dia, selain ke-78 WN asing tersebut, pihaknya juga mengamankan lima Warga Negara Indonesia (WNI) yang diduga turut serta melancarkan aksi kejahatan pelaku, seperti menjadi pesuruh, penampung dan kurir.

Para pelaku telah menjalankan aksinya selama satu bulan dengan penghasilan per orang sekitar 2.000-3.000 dollar AS per bulan. Dalam satu bulan mereka bisa meraup hasil kejahatan sebesar  1 juta US Dollar atau sekitar Rp 13 miliar.

Dari pengungkapan itu, petugas menyita barang bukti 75 lembar paspor, 61 unit HP, 7 laptop dan 6 kalkulator. Di gudang itu, terdapat sejumlah tempat (box) yang telah didesain khusus untuk berkumunikasi agar tidak terdengar orang lain.

Terdapat juga dapur khusus bagi para pelaku, dan kamar-kamar yang dilengkapi dengan tempat tidur bertingkat serta meja-meja untuk melakukan kejahatannya. Gudang itu berada di pelosok desa, sekira 500 meter dari Jalan Bandara Kuala Namu. (THA)

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 100%

Wind: 6.44 km/h

  • 24 Jun 2017 30°C 22°C
  • 25 Jun 2017 30°C 22°C

Banner 468 x 60 px