Log in

Siswa SMP Mengolah Kayu dan Pelepah Rumbia Jadi Miniatur Boat

Irfandi (kanan) bersama sang ayah menunjukkan karya seninya berupa miniatur boat. Andalas/effendi noerdin Irfandi (kanan) bersama sang ayah menunjukkan karya seninya berupa miniatur boat. Andalas/effendi noerdin

Irfandi merupakan siswa SMP Negeri Lapang, Kabupaten Aceh Utara, remaja yang berpenampilan sederhana namun memiliki bakat seni yang luar biasa.

Art Iminatiture Naturam yang artinya seni adalah tiruan alam, demikian sebut Plato dalam sebuah filsafah bijaknya. Beda namun nyaris serupa filsafah yang disebutkan oleh Aritoteles, seni merupakan ungkapan rasa dan karsa yang dituangkan lewat karya.

Sebagai pemuda tanggung yang dibesarkan di lingkungan pesisir Lapang, Irfandi sangat peka terhadap keindahan kapal boat yang dimiliki oleh para nelayan setempat. Tak butuh waktu lama, Irfandi kecil sukses menirukan boat-boat tersebut disulap menjadi miniatur-minitur unik dan sedap dipandang mata.

Kepada andalas, Minggu (09/09) yang sengaja menjumpai di kediamannya di Desa Kuala Cangkoi, Irfan menuturkan, ia sangat menyukai kreasi seni, miniatur berupa wood working DIY, atau seni miniatur kayu. "Saya sangat gemar membenturkan seni miniatur, mengisi waktu luang, saya lebih fokus pada ide kreatif dari kayu," katanya.

Putra dari pasangan Musliadi dan Ratna ini masih menduduki kelas 3 Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Lapang, Aceh Utara. Kegigihan dan kreatifitasnya ia mampu memproduksi beragam bentuk kapal boat nelayan, jenis dan ukuran yang beravariasi, tak hanya itu, ia pun hafal betur bentuk skala pembuatan. Sehingga memudahkannya dalam mengelola potongan kayu yang akan dibentuk miniatur.

Hasil karya Irfan mulai tercium di kalangan masyarakat lokal, ia mengaku hasil karya seninya telah mendapatkan banyak pesanan. Miniatur tersebut dibuat bukan saja tidak memiliki makna khusus, namun Irfan juga pandai membaca suasana. Seperti miniatur buatannya itu dimanfaatkan dalam skala adat-istiadat masyarakat setempat, seperti kebutuhan miniatur antarmanten laki-laki (Antar Linto) bagi yang akan melangsungkan pesta pernikahan.

Kebiasaan di sana, pengantin laki-laki akan diantar oleh sanak saudara, kerabat dan keluarga ke rumah mempelai wanita, wajib memiliki mianiatur yang dibuat khusus. Di dalam miniatur tersebut akan diisi dengan tunas batang kepala, yang nantinya akan ditanam bersama oleh kedua mempelai.

Kreasi seni, miniatur apik buatan Irfan awalnya hanya sebatas amatiran, mencoba-coba. Namun, karyanya tersebut ternyata benilai jual dan diminati. Produksinya tersebut, dari harga Rp. 50.000 hingga capai 250.000. Harga tersebut tergantung bentuk dan ukuran yang dipesan oleh keluarga calon mempelai.

Tak hanya itu, ternyata Irfan selain memiliki bakat membuat miniatur bentuk ragam kapal boat, bahkan replikasi Titanic mampu dibuatnya. Dan juga mampu membuat miniatur rumah adat, khususnya rumah adat Aceh. Di antara kesibukan meluruskan legemarannya itu, Irfan tetap mengutamakan sekolahnya, baginya sekolah adalah hal yang utama untuk meraih masa depan kelak. Kendatipun sibuk, tapi ia juga tidak melupakan waktu untuk beribadah, seperti mengerjakan salat dan mengaji.

Salah satu Geuchik di Lhoksukon ternyata menjadi salah satu peminat hasil karya seni siswa SMP tersebut. Hasanuddin selaku Geuchik Triang Pantang sengaja mengorder sebuah miniatur boat buatan Irfandi. "Saya menyukai miniatur ini, saya sempat memesan satu untuk dibaw pulang," kata Hasanuddin.

Hasanuddin mengaku kagum atas bakat yang dimiliki remaja tersebut, bahkan ia berharap, para seniman di Aceh, khususnya Aceh Utara mendapatkan pembinaan khusus dari pemerintah. Hasan menilai, Irfandi yang masih duduk di bangku SMP sudah memiliki profesi sebagai pekerja seni.

Selain menggunakan bahan kayu, Irfandi juga memanfaatkan pelepah rumbia kering, dengan mengambil dagingnya, mengolah menjadi papan-papan dan balok miniatur. Irfandi diakui mampu merupiahkan bahan yang dianggap tidap berguna menjadikan seharga seni.

Bahan lain yang digunakan Irfan sangatlah sederhana. Bermodalkan lem alteco atau lem cina, benang biasanya dari kawat rem sebagai alat potong. Setelah mempersiap bahan kebutuhan, Irfan mulai membuat miniatur dengan simpel dan mudah. Setelah jadi, miniatur ini akan dicat menggunakan cat minyak, baru kemudian dipajangnya.

"Untuk memproduksi miniatur ini, saya terkadang menghabiskan waktu tiga hari. Itupun tergantung bentuk dan ukuran. Saya menawarkan kepada pembeli sesuatu bentuk dan ukuran juga. Dari harga Rp. 50 ribu hingga Rp.150 ribu bahkan lebih," katanya, seraya menambahkan, karyanya kini mulai diminati dan menjadi pendapatan tambahan bagi Irfandi membantu ekonomi keluarganya yang sempit. (EN)

23°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 6.44 km/h

  • 15 Nov 2018 26°C 22°C
  • 16 Nov 2018 29°C 22°C

Banner 468 x 60 px