Log in

Setahun Pemerintahan Abusyiek Ibarat Kerakap di Atas Batu


Kasus Otsus Dinilai Korupsi Berjemaah

Sigli,Aceh - andalas Sejumlah pejabat dan pemerhati pembangunan di Kabupaten Pidie menilai roda pemerintahan di jajaran pemerintah di daerahnya setahun ini terkesan bagaikan kerakap tumbuh di atas batu. Ini akibat pimpinan dan bawahan kurang berkoordinasi.

Pernyataan itu disampaikan sejumlah pejabat di kantor bupati setempat kepada andalas, Selasa (10/7) petang. Sejalan dengan pernyataan itu, mereka berharap agar tidak mencantumkan nama mereka sebagai nara sumber berita Jelasnya, kata para pejabat tersebut, masalah ketidakharmonisan bawahan dengan bupati dan sekda bukan hal baru lagi, sudah menyebar ke publik.

"Kami berharap, apa yang kami sampaikan ini menjadi tolok ukur buat Pak Bupati dan Pak Sekda, sehingga membawa perubahan bagi pembangunan di Pidie ke depan," papar pejabat tersebut.

Menurut pejabat tersebut, banyak kepala dinas enggan menyampaikan berbagai masalah dan kendala di lapangan, karena mereka takut dibentak dan disalahkan secara berlebihan. Kondisi ini semakin membuat jarak pimpinan dan bawahan.

Pejabat di jajaran Setda Pidie itu mengakui,  tiga hari lagi genap setahun  kepimpinan Bupati Abusyiek dan Wakil Fadhlullah TM Daud ST, tidak ada kemajuan berarti yang dapat memicu semangat kerja.

Mereka menambahkan, seharusnya Bupati Abusyiek tetap masuk kantor meski dua jam saja, sehingga bisa dilakukan koordinasi menyangkut kelancaran roda pemerintahan, termasuk menempati pendopo.

Disinggung soal Wakil Bupati  Fadhlullah cukup baik, sopan dan humoris. Hal ini, diakui oleh sejumlah pejabat tersebut, namun ditimpalinya bahwa  Pak Wabup juga tidak bisa memberi keputusan mutlak tetap menunggu putusan dari bupati.

Diributkan

Sejumlah pemerhati pembangunan di Kabupaten Pidie secara gamblang melalui media sosial dan grup WA mengkritik pedas kepimpinan Bupati Abusyiek, terlebih menyangkut persoalan dana otonomi.khusus (Otsus) pengadaan lapangan sepakbola, serta mengarahkan proyek APBA 2018 untuk timsesnya.

Menyangkut persoalan pengadaan lapangan sepakbola bersumber dana Otonomis Khusus (Otsus) Tahun 2016, kini persoalan berbau korupsi berjemaah itu  sudah sekian lama ditangani Kejaksaan Pidie, bahkan sudah 45 saksi dalam kasus terebut diperiksa dan diminta keterangan oleh jaksa. Tinggal lagi, kasus korupsi berjemaah itu digelar di Pengadilan Tipikor, ungkap pemerhati pembangunan di Pidie.

Dari catatan media ini sebelumnya, kasus pengadaan lapangan sepakbola di Kecamatan Indrajaya, senilai Rp 2,3 miliar lebih sarat dengan korupsi berjemaah sebagaimana disebutkan oleh hamba hukum di kejaksaan karena selain agen tanah, juga terlibat sejumlah pejabat.

Selain itu, disebutkan kasus pengadaan lapangan sepakbola bersumber dana Otsus 2016, sejumlah pejabat menerima fee berkisar antara dari Rp 400 juta sampai dengan Rp 500 ribu.

Menyangkut pejabat yang menerima fee tersebut, Kasie Pidsus Kajari Pidie masih tidak ingin berkomentar, termasuk nama saksi. Jelasnya, pihak kejaksaan masih menunggu laporan BPKP menyangkut kerugian negara.

Salah satu praktisi pembangunan di Kota Sigli menyebutkan, tidak ada peluang untuk menutupi kasus tersebut. Karena, sudah menyeruak lebar dan terus dipantau banyak pemerhati hukum.  “Dalam hal ini, meski ada yang mengembalikan uang fee, tapi tetap disebut sudah berusaha melakukan korupsi. Setelah belang diketahui, baru coba berbuat jujur,” sebut Zulkifli dan M Ali. (dhian)     

26°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 85%

Wind: 6.44 km/h

  • 13 Nov 2018 29°C 23°C
  • 14 Nov 2018 26°C 22°C

Banner 468 x 60 px