Log in

Petani Garam Teupien Kuyuen Butuh Perhatian Khusus Pemerintah

Keberadaan petani garam di Desa Teupien Kuyuen, Kecamatan Seunudon, Aceh Utara perlu mendapat perhatian khusus pemerintah. Mereka butuh pembinaan dan permodalan untuk peningkatan produksi garam. Keberadaan petani garam di Desa Teupien Kuyuen, Kecamatan Seunudon, Aceh Utara perlu mendapat perhatian khusus pemerintah. Mereka butuh pembinaan dan permodalan untuk peningkatan produksi garam.

Puluhan Jambo Siradi Belum Mampu Mengubah Sejarah

Aceh Utara-andalas Mencapai Desa Teupien Kuyue pandangan tak bisa dilepaskan pada gubuk pembuatan garam masyarakat setempat. Sekitar tujuh puluhan jambo sira didirikan sejajar oleh petani garam di lahan tambak. Tambak yang dimaksud bukannya tembak menambak ikan melainkan menambak garam.

Mencapai desa ini hanya membutuhkan satu jam dari pusat pemerintahan Kabapaten Aceh Utara di Lhokseumawe, persimpangan Panteu Breueh, Kecamatan Baktiya kabupaten setempat, masuk ke dalam menulusuri jalan kecamatan hingga ke tempat tujuan sekitar 12 km saja.

Dulunya masih jalan setapak, namun, kini sedikit jalan meraih desa pesisiran itu telah di aspal oleh pemerintah provinsi. Memasuki pematang tambak warga, sudah tidak asing gubuk yang seakan-akan dirikan sejak jaman pasca kemerdekaan itu masih utuh walau dalam keadaan reot.

Dibeberapa gubuk terlihat asap mengepul, asap itu bersumber dari dapur tempat memasak garam. Beberapa gubuk lainnya terlihat para wanita lanjut usia sedang bercengkrama bersama dengan putra-putrinya sembari mengkorek tanah endapan tambakan untuk bahan baku garam.

Tidak jauh dari lokasi garam, di kediamannya kepala Desa Teupien Kuyuen, Saifan Nur sedang menanti rekan wartawan yang sengaja datang melaksanakan reportase terhadap aktifitas produksi garam lokal yang telah dikembangkan sejak puluhan tahun silam secara turun temurun oleh masyarakat desa terkait.

Saifan Nur kepada wartawan andalas mengawali pembicaraannya menuturkan, saat-saat genting bagi petani garam, alasannya, guyuran hujan menghambat total produksi garam Teupi Kuyuen.

Berdasarkan keterangan Saifan Nur, desa yang yang telah dipimpinnya selama empat tahun terakhir ini memiliki luas wilayah sekitar 450 hektare lebih, seluas 300 hektare lebih terdiri dari lahan tambak, diantaranya ada yang produktif juga tidak sedikit masih menjadi lahan tidur.

Jumlah jiwa hingga pertengahan 2017 di desa itu capai 1.070 orang lebih dari jumlah Kepala Keluarga (KK) sebanyak 275 KK. “Empat puluh persen warga desa sebagai petani garam. Garam ini telah diproduksi secara turun temurun dari tahun 1976 silam,” kata Saifan Nur, Selasa (14/11).

Saifan Nur mengakui mengerti betul kondisi masyarakatnya, minat masyarakat ingin mengembangkan produksi garam secara industrialisasi, tapi sudah nasib pedesaan yang terpelosok, sehingga mimpi itu susah di raih. Selain sumber daya manusia yang masih tradisional, juga perhatiaan pemerintah daerah sangat minim, sementara Teupin Kuyuen dipastikan telah memberikan kontribusi besar terhadap masyarakat umum melalui produksi garamnya berpuluh-puluhan tahun lalu.

“Untuk pendapatan ekonomi saja nyaris tidak terjangkau, karena sehari aja tidak diproduksi ekonomi masyarakat disini bermasalah. Garam merupakan pendongkrak ekonomi besar bagi masyarakat,” lanjut Saifan Nur seraya mendatangi salah satu keluarga besar produse garam di kawasan pertambakan.

Di dampingi anggota keluarga, ibu tua yang disapa Safiah (65) Mengeluh kesahkan kondisi keluarganya sebagai salah satu produsen garam. Ia mengatakan, untuk memproduksi sebanyak 15 kg garam dapur membutuhkan waktu hingga delapan jam. Modal yang dibutuhkan terbilang besar, dibandingkan pendapatan ekonomi rumah, wanita janda ini.

“Kami harus beli kayu bakar, tempat penampungan serta alat-alat yang biasa digunakan, seperti cangkul, sendok besar, drump, plastik endapan dan yang sukar yaitu bibit. Tanpa bibit ini, garam tidak bisa di produksi,” katanya.

Didampingi putrinya Kasmawati (45), ia menambahkan, bibit garam ini dibeli seharga Rp280.000 hingga Rp330.000 persak. “Itu untuk lima kali masak garam, dengan takar sekali masak garam itu menghasilkan 15 kg,” lanjut menunduk.

Kembali kepada Saifan Nur, Geuchik terpilih pada tahun 2013 lalu ini mengatakan, pemerintah daerah kadang peduli, kadang juga tidak. Alasannya, petani garam ini juga telah membentuk persatuan kelompok. Melalui kelompok ini, pemerintah sempat beberapa kali menyalurkan bantuan, akan tetapi penyalurannya tidak tepat sasaran.

“Jika pun ada bantuan pemerintah, selaku Geuchik saya tidak pernah disampaikan, tiba-tiba saja menerima keluhan masyarakat, kalau bantuan yang didapatkan oleh kelompok dinikmati oleh kalangan tertentu,” ungkapnya.

Saat itu pula, petani garam yang mayoritasnya dilakukan oleh kaum perempuan itu, terhadap Geuchik menekankan, mereka menyampaikan, produksi garam Teupien Kuyuen harus ada pembinaan khusus. Selain untuk perbaikan mutu, juga demi kesejahteraan para pelaku garam dapur ini.

“Selalu saja ada keluhan, wajarlah garam adalah tulang punggung ekonomi. Kami dari pemerintah desa sangat mengharapkan perhatian khusus dari pemerintah untuk membenahi produksi garam ini,” katanya lagi, seraya mengatakan, saat ini desa mendapatkan peluang besar untuk mengembangkan garam-garam ini melalui dana desa.

“Disini kita butuh pembimbing, saya siap mengalokasikan modal BUMG sebesar Rp 100 juta. Kami sangat mendambakan, kalau garam kami, ingin kami proses sebagai garam yang berkadar Yodium terbaik. Kami ingin mengembangkan industri garam ini lebih modern, selama ini hanya dilakukan secara manual dan tradisional,” tandasnya.

Kepada pemerintah daerah, sebanyak 70 KK penghasil garam dapur Teupien Kuyuen, sangat berharap agar pemerintah segera melakukan pembinaan khusus, sehingga produksi garam yang hanya senilai Rp7.000 per kgnya itu bisa menambahkan aset pendapatan masyarakat.

Masyarakat setempat berharap, agar bisa mengatasi mahalnya harga bibit. “Kami ingin mengolah bibit sendiri, dengan ini pendapatan masyarakat akan lebih besar lagi,’’ujarnya (EN)

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

27°C

Medan, Sumatera Utara

Thunderstorms

Humidity: 80%

Wind: 6.44 km/h

  • 21 Nov 2017 28°C 23°C
  • 22 Nov 2017 29°C 22°C

Banner 468 x 60 px