Log in

Peringkat Ketujuh Se-Aceh, Aceh Selatan Endemis Penyakit Kaki Gajah

Kabid P2P Dinkes Aceh Selatan Sri Milda SKM. Kabid P2P Dinkes Aceh Selatan Sri Milda SKM.

Tapaktuan-andalas Kabupaten Aceh Selatan merupakan daerah endemis Filariasis atau yang lebih dikenal dengan sebutan Penyakit Kaki Gajah. Saat ini kabupaten penghasil pala itu berada pada ranking ketujuh dari 23 kabupaten/kota se-Aceh sebagai daerah endemis filariasis.

“Dengan 40 kasus sedang ditangani Dinkes Aceh Selatan saat ini kondisinya berada pada posisi lima persen. Sedangkan daerah bebas penyakait kaki gajah yaitu di bawah satu persen,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh Selatan Sri Milda SKM.

Hal itu disampaikannya di sela Sosialisasi dan Advokasi Tentang Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Filariasis bagi lintas sektor dan program se-Kabupaten Aceh Selatan di Aula Dinkes Aceh Selatan, Jalan TR Angkasa, Tapaktuan, Selasa (10/9).

Menurutnya, penyakit kaki gajah yang disebabkan oleh tiga spesies cacing Filaria, yaitu Wucheria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori, yang ditularkan dengan perantaraan nyamuk sebagai vektornya, masih menjadi masalah kesehatan yang serius karena baik anak-anak maupun dewasa, pria maupun wanita, semua bisa tertular penyakit kaki gajah.

Alumnus UNDIP Semarang, Jawa Tengah ini, menerangkan semua jenis nyamuk bisa membawa parasit mikrofilaria dan bila tidak mendapat pengobatan, akan menimbulkan kecacatan yang menetap seumur hidup, misalnya berupa bengkak atau pembesaran di beberapa anggota tubuh misalnya kaki, lengan, atau buah zakar (skrotum).

Karenanya, Dinas Kesehatan Aceh Selatan berupaya meminimalisasi berkembangnya penyakit menahun (kronis) ini dengan melakukan terobosan-terobosan yang melibatkan semua stakeholder yang ada.

Dia tidak memungkiri tahun 2018 pemberian obat filariasis terhadap masyarakat Aceh Selatan tidak mencapai target, hanya 80 persen dari 85 persen minimal. Hal ini dikarenakan berkembangnya isu negatif terhadap vaksin MR serta efek samping yang ditimbulkan pada tubuh setelah meminum obat pencegahan filariasis seperti, mual, mencret, dan lainnya.

“Kendati demikian mengingat penyakit yang berdampak pada psikologis penderita dan keluarganya, maka pada tahun 2019 ini kami menargetkan capaian persentase yang diharuskan secara nasional,” ujar Sri.

Dijelaskannya program pemberian obat pencegahan penyakit filariasis akan dilaksanakan pihaknya setiap bulan Oktober setiap tahunnya.

Acara yang sosialisasi yang dihadiri unsur Forkompimda Aceh Selatan, para camat dan instansi terkait lainnya itu dibuka oleh Bupati Aceh Selatan H Azwir SSos melalui Asisten Pembangunan dan Ekonomi Setdakab H Zaini Bakri SSos.

Dalam arahannya Bupati Aceh Selatan berharap melalui pertemuan tersebut dapat meningkatkan kesadaran, kemauan masyarakat untuk mau minum obat pencegah penyakit kaki gajah  tentunya dengan dukungan penuh dari lintas sektor dan lintas program terkait. (HSP)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px