Log in

Nelayan Aceh Timur Harus Tahu Batas-Batas Perairan

Para peserta saat mengikuti Sosialisasi tentang Implementasi Kebijakan Pemberantasan Illegal Unreported Unregulated (IUU) Fishing dan Dampaknya Dalam Hubungan Bilateral RI-Negara Sahabat. Para peserta saat mengikuti Sosialisasi tentang Implementasi Kebijakan Pemberantasan Illegal Unreported Unregulated (IUU) Fishing dan Dampaknya Dalam Hubungan Bilateral RI-Negara Sahabat.

Idi-andalas Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) memberikan sosialisasi tentang illegal fishing dan batas-batas laut Republik Indonesia (RI) kepada kalangan nelayan dan para pemangku kepentingan terkait di Kabupaten Aceh Timur, di Aula Pendopo Bupati, Idi, Kamis (11/7).

Sosialisasi ini bertujuan agar nelayan mengetahui batas-batas perairan yang diperbolehkan untuk mencari ikan. Sehingga ke depan kasus seperti yang dialami 23 nelayan Aceh Timur yang ditangkap aparat keamanan Negara Myanmar lantaran melanggar batas wilayah, tidak terjadi lagi.

"Sosialisasi ini diselenggarakan atas permintaan Pak Bupati Aceh Timur yang beberapa waktu lalu datang ke tempat kami di Kementerian Luar Negeri dan meminta kepada kami untuk membantu pembebasan nelayan yang ditangkap di luar negeri karena kasus illegal fishing," kata Kepala Sub IV Direktorat Asia Tenggara Kemenlu Dewi Lestari dalam sambutannya.

Ia berharap melalui Sosialisasi tentang Implementasi Kebijakan Pemberantasan Illegal Unreported Unregulated (IUU) Fishing dan Dampaknya Dalam Hubungan Bilateral RI-Negara Sahabat, nelayan di Aceh Timur memahami illegal fishing dan batas-batas laut sehingga dalam mencari ikan nelayan tidak lagi mengalami hambatan atau masalah lantaran ketidaktahuan.

Sementara itu Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh Timur M Ikhsan Ahyat SSTP MAP dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada Kemenlu beserta pihak-pihak terkait yang telah membantu dalam upaya pembebasan 23 nelayan Aceh Timur yang ditangkap Negara  Myanmar beberapa waktu lalu.

"Kami juga menyampaikan penghargaan kepada Kedubes RI di Yangon, Myanmar. Khusus untuk dua tekong boat yang ditangkap aparat Pemerintah Myanmar, hukuman akan dijalani," sebut Ikhsan.

Di bagian lain Ikhsan menjelaskan Aceh memiliki luas laut mencapai 295 ribu Km² dgn panjang garis pantai mencapai 2.666 Km. Dengan laut seluas itu potensi perikanan Aceh diperkirakan mencapai 1,8 juta ton per tahun.

Pelabuhan Perikanan Idi merupakan salah satu pelabuhan perikanan terbesar dan tersibuk di Kabupaten Aceh Timur. Hasil tangkapan paling besar adalah ikan calang yaitu sebesar 64.126.874 Kg dan hasil tangkapan ikan paling kecil adalah ikan tuna mata besar sebesar 6.342.097 Kg. "Ikan cakalang adalah ikan khas hasil tangkapan nelayan Kuala Idi," terang Ikhsan.

Dia berharap sosialisasi dari pihak pemerintah tentang batas perairan kepada nelayan harus terus ditingkatkan. Sebab banyak nelayan tidak dilengkapi alat navigasi canggih saat mencari ikan di laut. Akibatnya nelayan tanpa sadar sering melewati batas perairan dan masuk wilayah negara lain secara ilegal.

"Pemerintah belum bisa banyak membantu nelayan dengan membekali alat teknologi lebih bagus. Harapan kita semua dengan adanya sosialisasi ini dapat mengurangi kasus penangkapan nelayan Aceh," pungkas Ikhsan.

Turut hadir dalam sosialisasi tersebut diantaranya Sekretaris Kedubes Myanmar di Jakarta Kyaw Thu, Pengawas Madya  Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Sere Alina Tampubolon, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh Cut Yusminar APi MSi, Kepala Dinas Perikanan Aceh Timur Ir Syawaluddin, Panglima Laot Provinsi Aceh HT Bustamam, Panglima Laot Idi Rayeuk Rusli, dan perwakilan nelayan Aceh Timur. (MAD)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px