Log in

Menanam Rupiah di Tanah Tandus

Mat Jais mulai mengayunkan cangkul untuk membuat lobang tanam serai wangi di Bur Jomong. Mat Jais mulai mengayunkan cangkul untuk membuat lobang tanam serai wangi di Bur Jomong.

Gayo Lues-Andalas Hujan baru saja berhenti, sang surya mulai menampakkan diri dari celah awan hitam yang membentang di atas kota Negeri Seribu Bukit. Kendaraan pun mulai berlalulalang pertanda warga mulai melakukan aktivitas masing-masing Kemudian pria paruh baya yang semula berteduh di pondok itu mulai bergegas meninggalkan tempat persinggahannya. Parangnya diikat di pinggang, dan cangkulnya mulai dipikul. Sesekali, cangkulnya diayunkan ke tanah, pindah lagi dan diayunkan lagi ke tanah.

"Lagi buat lobang tanam Serai Wangi," kata Mat Jais, warga Desa Porang, Kecamatan Blangkejeren, Rabu (5/12) di Bur Jomong yang masuk wilayah desa Anak Reje, Kecamatan Blangpegayon Gayo Lues saat disapa wartawan.

Mat Jais adalah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bekerja di kantor Setdakab Gayo Lues. Usai melaksanakan pekerjaan rutin setegah hari di kantor, ia pun memilih berkebun di tanah merah Bur Jomong.

"Tanah merah ini hanya cocok tanam serai wangi," katanya. Semula ia pernah menanam pisang di lahan tandus tersebut, tetapi hasil yang diperoleh tidak maksimal lantaran buahnya kecil dan sering masuk ternak memakan anak pisang.

Begitu juga dengan tanaman jagung, di lahan tandus itu tidak cocok lantaran ketika hujan tak turun tanahnya jadi gersang dan jagung yang sudah tumbuh akan kering, sementara air penyiramnya berada di bawah perkebunan yang membuat sulit petani.

"Kita bukan memikirkan harga yang mahal, tetapi dari pada tumbuh rumput liar, mendingan ditanam serai wangi saja. Kasihan jadi lahan tidur," ujarnya.

Serai wangi, kata Mat Jais adalah tanaman yang bisa menghasilkan rupiah meskipun ditanam di lahan tandus. Tanaman itu tidak mengenal tempat, maupun kondisi cuaca, asalkan lengket di tanah, tumbuhan itu akan hidup dengan perawatan pembersihan saja menggunakan semprot atau ditebas.

"Umur serai wangi baru bisa dipanen setelah 4 sampai 6 bulan, dan semakin sering dipanen dan dibersihkan, maka minyaknya semakin banyak kita dapatkan, bahkan dalam satu hektare lahan bisa mencapai 40 - 80 kg minyak, itu semua tergantung perawatannya," jelasnya.

Harga minyak serai wangi pun, kata Mat Jais, terbilang menjanjikan. Pasalnya, dalam satu kg minyak serai wanggi saat ini dihargai hingga Rp 300 ribu, dan harga itu sangat pantastis jika pemilik kebun serai wangi memiliki kayu bakar di kebun tanpa harus dibeli.

"Pokoknya kalau dihitung-hitung lumayanlah hasilnya. Daripada tanah merah ini dibiarkan begitu saja, mendingan kita gali lubang kemudian ditanam serai wangi. Kalau kita tidak sanggup memanennya (mengukus serai), kita juga bisa menyuruh orang dengan sistim bagi tiga dari orang itu kayu bakarnya," terangnya.

Mat Jais mengimbau, warga yang memiliki lahan tandus agar ditanan serai wangi saja, sebab tanaman itu tidak membutuhkan perawatan khusus seperti tanaman lainnya. Saat ini, kebanyakan warga Gayo Lues  menanam serai wangi, kopi, dan coklat sebagai tanaman masa tua yang meningkatkan kesejahteraan. (Nuar)

23°C

Medan, Sumatera Utara

Thunderstorms

Humidity: 95%

Wind: 6.44 km/h

  • 19 Dec 2018 29°C 22°C
  • 20 Dec 2018 30°C 22°C

Banner 468 x 60 px