Logo
Print this page

Bank Gala Abdya Segera Beroperasi, Petani Bisa Pinjam Modal

Bupati Abdya Akmal Ibrahim juga dikenal sebagai petani sedang melihat gabah varietas baru yang masih dalam tahapan uji coba di lahan sawah Desa Ikhue Lueng, Kecamatan Jeumpa, beberapa waktu lalu. Bupati Abdya Akmal Ibrahim juga dikenal sebagai petani sedang melihat gabah varietas baru yang masih dalam tahapan uji coba di lahan sawah Desa Ikhue Lueng, Kecamatan Jeumpa, beberapa waktu lalu.

Bank Gala, sebuah badan nonbank yang memberi pinjaman modal usaha kepada petani dengan cara mengadaikan (gala) areal sawah milik sendiri, segera beroperasi di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Modal awal sudah tersedia dana sekitar Rp825 juta berasal dari CSR (Corporate Social Responsibility) dari Bank Aceh.

Pembentukan Bank Gala merupakan salah satu janji Bupati dan Wakil Bupati Akmal Ibrahim dan Muslizar MT dalam kampanye Pilkada 2017.

“Konsep dan sistem Bank Gala hampir rampung kita susun, dan proposal pengelolaan dana CSR itu segera kita ajukan kepada Bank Aceh,” kata Bupati Abdya, Akmal Ibrahim dilansir Serambinews.com, Selasa (13/8).

Bank Aceh tahun 2019 sudah memplot dana CSR 2019 untuk Kabupaten Abdya sebesar Rp 1,5 miliar, direncanakan sekitar Rp 825 juta diantaranya digunakan sebagai modal awal Bank Gala yang dikelola sebuah badan. “Ini salah bentuk kepedulian Bank Aceh terhadap pengembangan ekonomi mikro,” kata Bupati Abdya, itu. 

Bupati mengatakan Bank Gala harus dikelola dengan serius oleh orang yang tepat karena setiap pengelolaan anggaran tetap dilakukan audit pertanggungjawabnya.

Pembentukan Bank Gala, menurut Bupati, kesungguhan dari Pemkab Abdya membantu petani yang kesulitan modal. Dengan modal yang sudah tersedia, Bank Gala segera melayani petani yang berminat mengala (mengadai) sawah) miliknya  dengan maksimal uang gala Rp10 juta untuk ukuran luas lahan sawah 1 naleh benih.

"Setiap petani yang menggala sawah harus ada surat bukti pemilikan sawah atas nama sendiri, kemudian menandatangani perjanjian pengembalian, ” kata Akmal Ibrahim.

Bupati Akmal menambahkan petani menggala sawah ke Bank Gala tetap diuntungkan. Pasalnya, sawah yang digadaikan itu tidak berpindah hak garap karena pemilik sawah tersebut tetap diperbolehkan mengharap lahan sawah seperti biasa.

“Ini tentu lain bila digadaikan (digala) kepada pihak lain, karena hak garap beralih kepada menerima gadai. Lahan sawah tersebut baru bisa ditarik kembali setelah petani melunasi (menebus kembali) uang gadai dalam jumlah tertentu,” kata Bupati yang dikenal juga sebagai petani, itu.

Lalu, bagaimana petani melunasi uang gadai pada Bank Gala. Bupati Akmal menjelaskan, setiap sawah seluas satu naleh benih di gala senilai maksimal Rp10 juta, kemudian dilunasi petani dengan hasil panen gabah.

Setiap panen tiba, Bank Gala menarik uang sewah sawah sebanyak 2 kunca untuk satu naleh benih sawah. Dari 2 kunca gabah hasil sewa tersebut, 1 kunca gabah dijadikan pengembalian uang gala kepada Bank Gala. Sisanya, 1 kunca lagi menjadi biaya operasional Bank Gala.

“Yang kita lakukan ini sangat membantu petani. Sebab, selain hak garap sawah tak berpindah, dan paling lama 5 tahun (10 kali panen) sawah yang digala kepada Bank Gala bisa ditarik kembali,” papar Bupati Akmal Ibrahim. (SNC)

PT. STAR MEDIA INTERNUSA
JL. TENGKU AMIR HAMZAH KOMP RUKO GRIYA RIATUR INDAH 182, 184, 186 - MEDAN - 20124 - SUMATERA UTARA - INDONESIA.
Email : berita.andalas@googlemail.com © 2013 - 2014 harianandalas.com - All Rights Reserved.
IKLAN ONLINE | REDAKSI

http://kpkpos.com http://bursaandalas.com http://harianandalas.com http://harianandalas.com http://harianandalas.com